Senin, 12 Oktober 2009

tugas rangkuman komunikasi

Perkembangan teori komunikasi
Pengertian Teori
Penjelasan gejala alam secara cermat sehingga kita dapat melakukan prediksi. Bila penjelasan ini telah diuji berkali – kali dan terbukti benar, penjelasan ini dinamakan teori. Kerlinger ( dalam Jalaludin, 2000;06 ) menyebutkan bahwa teori adalah himpunan konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
Definisi di atas melukiskan ciri – ciri teori ilmiah. Secara terinci teori ilmiah ditandai olej hal – hal berikut (dalam Jalaludin, 2000;06 ) :
1. Teori terdiri dari proporsisi – proporsisi. Proporsisi adalah hubungan yang terbukti di antara berbagai vatiabel. Proporsisi ini biasanya dinyatakan dalam bentuk ”jika, maka”.
2. Konsep – konsep dalam proporsisi telah dibatasi pengertiannya secara jelas. Pembatasan konsep ini menghubungkan abstraksi dengan dunia empiris.
3. Teori harus mungkin diuji, diterima atau ditolak kebenarannya. Pembatasan pengertian konsep yang dipergunakan menyiratkan kemungkinan pengujian teori.
4. Teori harus dapat melakukan prediksi. Teori agresi dapat meramalkan bahwa bila guru selalu menghambat tingkah laku anak, frekuensi agresi akan bertambah.
5. Teori harus dapat melahirkan proporsisi – proporsisi tambahan yang semula tidak diduga.
Fungsi Teori
Ada bermacam – macam fungsi teori dari beberapa ahli. Seperti yang diungkapkan oleh Littlejohn yang menyatakan 9 fungsi dari teori, yakni :

1. Mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal. Ini berarti bahwa dalam mengamati realitas kita tidak boleh melakukan secara sepotong-sepotong. Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan nyata. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan yang diperoleh dari pola atau hubungan itu kemudian disimpulkan. Hasilnya (berupa teori) akan dapat dipakai sebagai rujukan atau dasar bagi upaya-upaya studi berikutnya.
2. Memfokuskan. Teori pada dasarnya menjelaskan tentang sesuatu hal, bukan banyak hal.
3. Menjelaskan. Teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya. Misalnya mampu menjelaskan pola-pola hubungan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu.
4. Pengamatan. Teori tidak sekedar memberi penjelasan, tapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya, berupa konsep-konsep operasional yang akan dijadikan patokan ketika mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori.
5. Membuat predikasi. Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercermin dalam kehidupan di masa sekarang. Fungsi prediksi ini terutama sekali penting bagi bidang-bidang kajian komunikasi terapan seperti persuasi dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, public relations dan media massa.
6. Fungsi heuristik atau heurisme. Artinya bahwa teori yang baik harus mampu merangsang penelitian selanjutnya. Hal ini dapat terjadi apabila konsep dan penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

7. Komunikasi. Teori tidak harus menjadi monopoli penciptanya. Teori harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap kritikan-kritikan, yang memungkinkan untuk menyempurnakan teori. Dengan cara ini maka modifikasi dan upaya penyempurnaan teori akan dapat dilakukan.

8. Fungsi kontrol yang bersifat normatif. Asumsi-asumsi teori dapat berkembang menjadi nilai-nilai atau norma-norma yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teori dapat berfungsi sebagai sarana pengendali atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia.

9. Generatif. Fungsi ini terutama menonjol di kalangan pendukung aliran interpretif dan kritis. Menurut aliran ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.
Pengertian Metode Ilmiah
Metode Ilmiah merupakan suatu cara sistematis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ini menggunakan langkah-langkah yang sistematis, teratur dan terkontrol. Pelaksanaan metode ilmiah ini meliputi enam tahap, yaitu:
1. Merumuskan masalah. Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan.
2. Mengumpulkan keterangan, yaitu segala informasi yang mengarah dan dekat pada pemecahan masalah. Sering disebut juga mengkaji teori atau kajian pustaka.
3. Menyusun hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara yang disusun berdasarkan data atau keterangan yang diperoleh selama observasi atau telaah pustaka.
4. Menguji hipotesis dengan melakukan percobaan atau penelitian.
5. Mengolah data (hasil) percobaan dengan menggunakan metode statistik untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil penelitian dengan metode ini adalah data yang objektif, tidak dipengaruhi subyektifitas ilmuwan peneliti dan universal (dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja akan memberikan hasil yang sama).
6. Menguji kesimpulan. Untuk meyakinkan kebenaran hipotesis melalui hasil percobaan perlu dilakukan uji ulang. Apabila hasil uji senantiasa mendukung hipotesis maka hipotesis itu bisa menjadi kaidah (hukum) dan bahkan menjadi teori.
Metode ilmiah didasari oleh sikap ilmiah. Sikap ilmiah semestinya dimiliki oleh setiap penelitian dan ilmuwan. Adapun sikap ilmiah yang dimaksud adalah :
1. Rasa ingin tahu
2. Jujur (menerima kenyataan hasil penelitian dan tidak mengada-ada)
3. Objektif (sesuai fakta yang ada, dan tidak dipengaruhi oleh perasaan pribadi)
4. Tekun (tidak putus asa)
5. Teliti (tidak ceroboh dan tidak melakukan kesalahan)
6. Terbuka (mau menerima pendapat yang benar dari orang lain)
Penelitian Ilmiah
Salah satu hal yang penting dalam dunia ilmu adalah penelitian (research). Research berasal dari kata re yang berarti kembali dan search yang berarti mencari, sehingga research atau penelitian dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk mengembangkan dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan. Suatu penelitian harus memenuhi beberapa karakteristik untuk dapat dikatakan sebagai penelitian ilmiah. Umumnya ada empat karakteristik penelitian ilmiah, yaitu :
1. Sistematik. Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.
2. Logis. Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal, yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bisa prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus) atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.
3. Empirik. Artinya suatu penelitian biasanya didasarkan pada pengalaman sehari-hari (fakta aposteriori, yaitu fakta dari kesan indra) yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian. Landasan penelitian empirik ada tiga yaitu :
A. Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain)
B. Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu
C. Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan, melainkan ada penyebabnya (ada hubungan sebab akibat)
4. Replikatif. Artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus diuji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variabel menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.

John Dewey
Seperti tiga peyokong ilmu komunikasi Amerika lainya. Dewey berasal dari latar belakang liberal, dari kota kecil dan keluarga protestan. Selama tahun-tahun pertama mengajar filosofi di Univ Michigan (dari 1884-1894), Dewey mempengaruhi Cooley dan Park, mempengaruhi mereka dengan suatu pandangan yang melihat komunikas massa sebagai alat perubahan sosial.Dewey ingin untuk “mengubah filosofi dengan cara memperkenalakan bisnis Koran didalamnya (Czitrom, 1982 p 92) dengan kolaborasi bintangnya. Robert Park, Dewey memulai dengan mencoba Koran baru,Thought News, untuk melaporkan penemuan-penemuan mutakhir dalam ilmu sosial dan untuk mengatasi masalah-masalah sosial.
Walaupun korannya berbentuk utopia itu gagal, Dewey tidak pernah menyerah pada potensi media massa untuk membawa reformasi sosial. Pemikiran Dewey berdasarakan pada teori evolusi Darwin dan pada suatu kenyakinan bahwa teknologi komunikasi terbaru mungkin mampu menyusun kembali nilai-nilai masyarakat dalam suatu lingkungan (Czitrom, 1982 p112). Dalam karirnya kedepan, Dewey agak menarik diri dari keterlibatan langsung dalam perubahan sosial utopia, tetapi ketertarikan terhadap Koran tidak berkurang. Dewey dianggap sebagai filsuf pertama dalam komunikasi.
Dewey pada masa kini dikenal karena “ Filosofi Pragmatisnya”, suatu kenyakinan bahwa suatu ide itu benar bilamana berhasil dalam praktiknya. Pragmatisme menolak dualisme pikiran dan persoalan, subyek dan obyek. Selama 1 dekadenya di Univ Chicago, 1894-1904, Dewey ditunjuk untuk mengepalai yang kemudian disebut sekolah Edukasi Universitas tersebut, termasuk bertanggung jawab untuk “sekolah percobaan” (suatu sekolah dasar dimana teori-teori filosofi Dewey diujikan). Pada akhir percobaan pendidikan Dewey dianggap terlalu radiakal oleh pimpinan universitas, sehingga Dewey mengundurkan diri dari Chicago, dan pindah ke Universitas Columbia (Bulmer, 1984 p 28).
Walaupun dia tidak pernah melakukan eksperimen sendiri, Dewey yakin bahwa eksperimen pada khususnaya dan ilmu pengetahuan pada umumnya memberikan dasar intromental bagi psikologi sosial, suatu bidang dimana kolega dan teman Dewey, George Herbert Mead, akan kembangkan pada tahun-tahun kedepannya di Chicago.
Sehingga selain peranan kuncinya sebagai pendukung intelektual komunikasi, Dewey juga mesti dihargai atas pembukaan sekolah filosofi pragmatis, mempelajari pendidikan, dan membentuk prasyarat bagi psikologi sosial. Dewey memberikan pengaruh langsung pada Mead, Park, dan Cooley, 3 pendukung ilmu komunikasi Amerika.
Charles Horton Cooley :
Tujuan utama teori Cooley adalah dalam bagaimana individu-individu bersosialisasi. Mungkin pandanganya datang dari luar sifat kepribadian Cooley. Ia sangat pemalu dan mengalami kesulitan berbicara, orang introvert dan menjalani hidup bagai pertapa/menyendiri. Cooley (1864-1929) lahir di Ann Arbor, Michigan, kuliah di Univ Michigan, dan mengajar disana seumur hidupnya. Awalnya tertarik pada ilmu sosial karena memepelajari Darwinisme sosial Herbert Spencer (Deweylah yang mengenalkan karya Spencer kepada Cooley), Cooley kemudian menolak warisan turun temurun dan individualisme sebagai determinan/penentu kepribadian. Sebagai pengantinya Cooley melihat komunikasi interpersoanal dengan orangtua dan teman dalam kelompok utama sang individu sebagai dasar utama sosialisasi.
Cooley memberikan nilai yang tinggi terhadap komunikasi dalam skema konseptualnya itu merupakan mekanisme yang sangat penting dalam pembentukan diri dalam bercermin. Interaksi dengan orang lain berfungsi sebagai cermin, membantu membentuk gambaran diri individu. Bagi Cooley komunikasi memberikan cara bersosialisasi, dan karenanya seperti benang yang menjaga kebersamaan masyarakat (Czitrom, 1982 p 96). Dasar empiris utama bagi teori-teori Cooley datang dari introspeksinya sendiri dan pengamatannya secara dekat pada bagaimana kedua anaknya yang masih kecil tumbuh.
Cooley menulis 3 buku utama : Human Nature & Social Order (1902), Social Org (1909), dan The Social Process (1918). Buku yang pertama menguraikan konsep orang bercermin; buku terakhir lebih banyak berisi tentang masa depan Utopia (yan diwujudkan oleh komunikasi massa,sebagaimana yang diprediksikan sarjana Ann Arbor ini).
Cooley lebih fokus komunikasi interpersonal dari pada media massa, walau pada akhirnya ia juga memeberi perhatian pada media massa, khususnya pada tahun-tahunterakhirnya ketika mintanya berubah menjadi hal-hal Utopia. Cooley memiliki kenyakinan yang sangat besar terhadap pergerakan sosial, dan mungkin karena ia sangat kecewa dengan komersialisme Koran, ia hanya melakukan sedikit usaha untuk mendalami realita-realita efek-efek komunikasi massa, untuk menyelidiki trend kepemilikan perusahan media, atau untuk menentukan peranan media massa dalam sosialisasi masa kanak-kanak.
Robert E Park
Robert Park pantas disebut sebagai “pembuat teori komunikasi massa pertama “(Frazier & gaziano, 1979 p 1). Bahkan ia mungkin juga mendapat sebutan “peneliti komunikasi massa pertama” karena Park telah melakukan penelitian empiris terhadap isi Koran, pembacanya, dan struktur kepemilikan. Yang patut diperhatikan pula adalah keunggulannya sebagai pemimipin sekolah sosiologi Chicago, salah satu pusat ilmu sosial yang paling berpengaruh yang pernah ada. Tapi Park belum memiliki jabatan apapun di universitas hingga ia berusia 50 tahun.
Park disebut sebagai satusatunya orang yang berpengaruh dalam sosiologi Amerika (Boskoff, 1969 p 94), sementara pengamat yang lain menyatakan bahwa kemungkinan besar tiada orang lain yang memberikan pengaruh sangat besar terhadap arah yang diambil oleh sosiologi empiris Amerika “(Turner 1967 p ix). Kata-kata ini adalah pujian yang sangat tinggi, dan Robert Park mendapatkannya bukan karena menjadi dosen yang hebat (yang sudah pasti diabukan begitu), tapi lebih karena pengaruhnya yang sangat kuat terhadap Mahasiswa-mahasiswa doktoral di Chicago. Hingga addanya Park, sarjana-sarjana besar dalam ilmu sosial bekerja secara sendiri-sendiri dan agak terisolasi dari intektual yang memiliki perhatian yang sama. Park mengubah hal ini, menciptakan jaringan intergrasi lokal para guru dan Mahasiswa S2 yang melakukan program penelitian atas masalah-masalah umum di satu kota (Bulmer, 1984 p 1). Park mengabugkan teori dan penelitian yang nyata (Bulmer, 1984 p 97-98). Robert Park mengubah ilmu sosial menjadi dekat dan terlihat kedalam dunia dimana ilmu pengetuhan adalah bagianya. Empirisme ilmu kounikasi dan jugaperhatiannya terhadap perubahan sosial (yang agak unik dari ilmu-ilmu sosial Amerika), dapat dilacak kembali dari pengaruh intelektual Robert E. Park.
Robert park adalah satu dari murid Dewey yang paling giat di Univ. Michigan ; dia mengambil enam mata kuliah dari Dewey, dan kemudian bergabung dalam Thought News. Dewey menanamkan pikiran yang terformasi pada muridnya, yang membawa Park pada awal untuk mencapai reformasi jurnalistik, dan kemudian fokus pada ilmu sosial sebagai alat perbaikan sosial.
Setelah lulus dari Michigan pada tahun 1887, Park bekerja sebagai wartawan, menjadi reporter Koran selam dua tahun di Minneapolis, Detroit, Chicago, dan New York. Selama mas tersebut, ia mengembangkan kemampuan untuk mengamati perilaku, terutama yang menyimpang (seperti aborsi, kejahatan dll.) Dari masyarakat urban miskin (masalah sosial yang menantinya menarik perhatian ilmiahnya). Ia juga memperlajari bagaimana jurnalisme yang berbeda dapat menjadi alat yang sangat berkuasa bagi perubahan sosial di Amerika.
Ketertarikannya terhadap berita dalam membentuk opini masyarakat pada akhirnya membuat Park berhenti dari pekerjaannya guna mengambil kuliah master filosofi di Harvard. Kemudian ia ke Jerman untuk mengambil gelar Ph.D, dimana ia belajar dengan George Simmel di Universitas Berlin. Kenyataannya ketiga mata kuliah yang Park ikuti dari Simmel adalah satu-satunya pelatihan formal dalam sosiologi yag pernah ia terima pada tahun 1904, disertasinya yang berjudul “The Crowd and The Public, mengekplorisasi tentang pembentukan opini publik oleh media. Walaupun hanya teori, sebagaimana gaya akademik Jerman saat itu, tetapi disertai juga memiliki data empiris yang mendukung teori-teori Park.
Saat Park kembali ke Eropa, ia bekerja sebagai relation bagi Serikat Reformasi Kongo dan bagi Booker T. Washington, seorang pendidik kulit hitam di institut Tuskeeqee. Pekerjaan ini cocok dengan keperibadian Park dan minat intelektualnya dalam berhubungan antara ras. Akhirnya pada tahun 1914 diumurnya ke 50, Park diundang untuk bergabung di Jurusan sosologi Univ. Chicago
Univ. Chicago berdiri pada tahun 1892 (sekitar 250 setelah Harvard), dengan pemberian yang sangat dermawan dari John D. Rockfeller, yang mendirikan kerajaan Standard Oil, dan dari beberapa pengusaha industri Chicago. Dengan gaji dari Univ Chcago, yang itu dua kali rata-rata gaji professor-professor Amerika maka Univ baru ini bisa membuat fakultas yang sangat baik. Selama beberapa decade, Univ menampilkan kualitas akademik kelas dunia di AS Universitas ini mengambil yang terbaik dari ide-ide yang terbaru dari Universitas-universitas di Amerika dan Eropa dan membuat ide-ide lebih baik lagi. Chicago memiliki Jurusan Sosiologi yang pertama AS. Universitas ini beralokasi dibagian selatan pusat kota Chicago, ditengah-tengah permukiman masyarakat kelas rendah yang didiami oleh para imigran baru dari Eropa, yang kebanyakan bekerja di industri daging kemasan terdekat. Karenanya Sekolah Sosiologi Chicago terfokus pada kota Chicago sebagai laboratorium alaminya. Dan Park adalah pimpinan intelektual bagi pendekatan ekologi ini.
Para penemu dan pendukung ilmu komunikasi di AS merupakan penganut positivisme dalam beberapa cara ; meraka percaya bahwa metode-metode ilmu pengetahuan dapat diaplikasikan pada ilmu tentang masyarakat guna memberikan solusi-solusi yang bermanfaat bagi masalah-masalah sosial. Meraka percaya bahwa orang-orang dapat mengunakan metode-metode ilmiah untuk meningkatkan kehidupan. Masyarakat tampaknya belum mengalami pergerakan yang cukup banyak pada masa-masa awal sekolah Chicago (1915-1925): Migrasi ke AS oleh kaum miskin Eropa, urbanisasi yang parah dikota-kota besar seperti Chicago, dan masalah sosial yang terkait seperti kriminal dan prostitusi menjadi ciri khas Amerika. Penitik beratan sekolah Chicago pada masalah sosial urban dapat dilihat pada judul buku-buku yang diterbitkan: The Hobo (1923), The Gang (1927), The Ghetto (1928), The Gold Coast and The Slim (1929), The Negro Family In Chicago (1932), Vice In Chicago (1933), dan 10.000 Homeless Men (1936).
Sekolah Sosiologi Chicago menyerang teori instink perilaku manusia, dengan alasan bahwa perilaku individu dapat dijelaskan dengan psikologi sosial interaksionis yang dikemukakan oleh John Dewey, Cooley, dan Mead. Penentuan instink biologi diserang secara teori, dan instink ditunjukkan memiliki kekurangan realitas empiris. Menurut pendukung teori interaksi, seorang anak tidak terlahir sebagai manusia maupun mahkluk sosial, tapi kemudian dengan cepat mempelajari bahasa dan memahami dirinya, yang membuat sang individu menjadi mahkluk sosial. Pembentukkan keperibadian ini menempatkan komunikasi interpersonal utamanya dengan kelompok utama yang terdiri dari orang tua, kawan sebaya, dan teman-teman pada tempat yang utama. Pribadi itu sendiri, yang digambarkan Cooley sebagai diri bercermin, tercipta ketika anak mampu memikirkan bagaimana penempilannya/dirinyaa di mata orang lain, bagaimana orang lain menilai perilakunya, dan ketika sang anak bereaksi terhadap evaluasi ini (Hinkle & Hinkle, 1954 pp 30-31). Sehingga ahli-ahli mengunakan instink untuk menjelaskan perilaku manusia, sosiologi Chicago menunjukan bahwa perilaku manusia, khususnya tindakan kejahatan yang mereka teliti, merupakan pengaruh kelompok dengan cara komunikasi melalui jaringan interpersonal. Sebagai contoh, seorang professor Chicago memberitahukan mahasiswanya bahwa ia belum pernah bertemu seorang anak yang melakukan kejahatan pertama seorang diri (Faris, 1970 p 76).
Maka bagi sosiologi Chicago, komunikasi adalah proses manusia yang fundamental, walau selain Robert Park, meraka tidak secara spesifik meyarankan untuk penelitian komunikasi masa depan. Mungkin inilah satu alasan mengapa hubungan antara sekolah Sosiologi Chicago dengan disiplin ilmu komunikasi modern kurang dihargai, dan seringkali diabaikan oleh para pengamat yang mempelajaari sejarah penelitian komunikasi.
Park menjelaskan komunikasi sebagai proses sosial psikologi yang dengannya seorang individu dapat meyimpulkan, hingga taraf dan tingkat tertentupendirian dan sudut pandang orang lain. Pandangan subyektivisme ini menhidari cara berpikir satu arah yan diterapkan oleh model komunikasi berdasarkan teori informasi Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1950an. Gambaran komunikasi Park memungkinkan dua individu atau lebih dapat bertukar informasi selama proses berkomunikasi, dimana masing-masing memberikan makna yang berbeda terhadap infokrmasi yang mereka terima.
Robert Park tidak hanya berteori soal komunikasi, tetapi ia juga meneliti komunikasi massa dalam berbagai cara yang sekarang digunakan oleh sarjana-sarjana masa kini, sebagai contoh Park menerbitkan risalah yang berjudul The Imigrant Press & 1ts Control (1922), yang menguraikan tentang peranan Koran berbahasa asing di Amerika. Park menunjukkan Koran berbahasa Yahhudi Jerman, Polandia, Jerman dan Koran berbahasa lainnya, bagi imigran justru memperlambat akulturasi mereka kedalam kehidupan di Amerika.
Gagasan tentang pengsettingan agenda, dimana media masa menetapakan prioritas isu-isu baru dan karenanya mempengaruhi apa yang dibicarakan pembacanya, berdasarkan identifikasi Park atas berita sebagian berdasar bagi diskusi interpersonal (Fraizer & Gaziano, 1979 p 2). Pemikiran Park bahwa pemikiran publik dapat diukur, telah jauh melampauhi pemikiran George Gallup, Paul F. Lazarsfeld, dan pionir-pionir survey lain pada tahun 1940an. Robert Park juga terdepan dimasanya dalam mencetuskan pertanyaan penelitian seperti: Bagaimana jaringan interpersonal terhubung dengan media massa ?. Hingga sampai taraf mana Koran mempengaruhi opini publik (pengsettingan agenda)dan bagaimana Koran dikontrol oleh opini publik ?. Seberapa mampu media membawa perubahan sosial ?.
Sesudah Robert Park , sosiologi Amerika berahli dari komunikasi ke penlitian kelas sosial dan kerja, dan komunikasi tidak lagi menjadi isu sentral dari pertanyaan selama lebih dari 50 tahun. Park setelah masa-masa gemilang selama 20 tahun mendominasi bidang sosiologi (hingga 1935). Sekolah Chicago menurun menjadi sama saja dengan Jurusan Sosiologi bagus lainnya.
Goerge Herbert Mead
Mead (1863-1931) mempelajari filosofi paragmatis dengan William James di Harvard dan kuliah pasca sarja di Jerman, tapi ia terutama terpengaruh oleh kolegannya di Universitas Michigan, John Dewey. Mead pindah kejurusan filosofi Univ Chicago pada tahun 1894 atas undangan Dewey, dan menjadi terlibat dalam berbagai proyek aksi sosial, setelah 40 tahun sebelumnya terlibat dalam kerja filosofi murni. Mead melakukan sebuah survey yang bertujuan untuk mengubah kehidupan pekerja tempat penyimpanan ternak, dan juga terlibat dalam sekolah percobaan Dewey(Bulmer, 1984 p 24). Bahkan Mead dikenalkan sebagai salah satu tokoh utama reformasi Chicago (Bulmer, 19824 p 124). Pandangan progresifime ini sangat erat hubungannya dengan behaviorisme (perilaku) Mead, yaitu suatu kepercayaan akademik dalam mempelajari pengalaman individu dari sudut pandangtingkah laku, khususnaya hal ini diamati oleh orang lain.
Orientasi perbaikan Mead cocok dengan sekolah Sosiologi Chicago, dimana Mead menjadi intelektual berpengaruh kedua ssetelah Robert Park didalamnya (Walaupun Mead adalah professor Jurusan filosofi, semua Mahasiswa S3 sosiologi mengambil mata kuliahnya di psikologi sosial tingkat tinggi). Selama 30 tahun mngajar di Chicago, Mead menemukan pendekatan interaksionis simbolis pada psikologi sosial. Pengaruh yang diberikan Mead bukan melalui bukukarangan tetapi melalui kuliahnya. Pada kenyataannya dia tidak pernah menerbitkan buku. Beberapa tahun setelah kematiannya, murid-murid Mead menerbitkan buku “ Mind, Self and Society “(Mead, 1934) yang diambil dari catatan-catatan kuliah mereka yang intinya tentang interaksionis symbolis. Mead sangat tergantung langsung pada teman-temannya seperti John Dewey dan Charles Horton Codey dalam mengagas teori dirinya, tetapi Mead membawa karya mereka kearah yang lebih menekankan komunikasi manusia sebagai agen sosial yang fundamental. Teori Mead mengatakan bahwa individu-individu mengetahui tentang diri mereka sediri melalui interaksi dengan orang lain yang mengkomunikasikan pada mereka siapa diri mereka.
Mead menekankan bahwa pribadi mulai terbentuk pada seorang anak ketika individu itu belajar mengambil peranan orang lain, belajar membayangkan peranan orang lain dan untuk mengantisipasi tanggapan orang lain terhadap tindakan individu tersebut. Kemampuan empati ini bergantung pada pengunaan bahasa dan dipelajari melalui interaksi sosial dalam suatu kelompok utama seseorang. Sehingga para psikologi sosial yang menganut paham interaksionis mengakui komunikasi sebagai dasar proses manusia(1934, p xxiv) Mead menciptakan konsep menggeneralisasikan orang lain, yang mana seseorang belajar untuk berempati. Oleh karenanya “pribadi” seseorang akan terdiri atas semua sikap dan pendirian individu-individu lain yang ditemaninya dalam berinteraksi , dan yang diambil untuk dirinya. “saya” (pribadi) adalah perspektif individu atas bagaimana orang lain melihat dirinya.
Apa persamaan yang dimiliki keempat pendukung ilmu komunikasi Amerika ini ? Mereka kuliah dan mengajar di Universitas-universitas di Amerika yang bergensi, Michigan dan Chicago, dan untuk halnya Park dan Mead, mereka kuliah di Jerman. Karenanya mereka mengjembatani ilmu pengetahuan Eropa dan Amerika. Pertalian instutusional mereka memberi energi bagi ide-ide mereka tentang komunikasi manusia. Mereka berempat datang dari latar belakang masyarakat pinggiran, tapi memajukan kehidupan urban, dan perubahan ini mempengaruhi paham liberalis progresif mereka. Dewey, Cooley, Park, dan Mead adalah penganut pandangan positif, yakni pada perbaikkan masalah-masalah sosial melalui penelitian sosial. Koran-koran Amerika telah menjadi media massa yang penting yang memiliki pembaca yang sangat banyak pada tahun 1900; Keempat tokoh ini sangat tertarik dengan potensi Koran bagi perubahan sosial. Mereka berempat adalah orang-orang yang empiris, menggunakan metode pengumpulan data mulai dari observasi introspeksi Cooley ke analisa isi/konten Park dan usaha Mead dengan penelitian survey. Semuanya adalah filsuf humanis dalam orientasi mereka, menekankan pembuatan teori, tapi juga menekankan pentingnya pengumpulan data empiris. Mereka berempat mendahului orang-orang dijaman mereka dalam mengakui komunikasi sebagai proses yang pundamental yang mempengaruhi perilaku manusia. Mereka menekankan subyektifitas komunikasi manusia, suatu kualiatas yang sayangnya tergantikan dengan model komunikasi berorientasi efek. Keempatnya juga mempelajari fenomena komunikasi yang luas kisarannya, berusaha menghilangkan keragaman pertanyaan-pertanyaan penelitian paradigma_______________untuk menyatukan dan mengintegrasi disiplin ilmu komunikasi baru terwujud pada era berikutnya dalam penelitian komunikasi. Arsitek ilmu komunikasi : Claude Shannon dan Norbert Wiener.
Beberapa tahun tepat setelah perang dunia II ditandai oleh waktu yang penting bagi perkembangan lapangan baru penelitian komunikasi. Sepertinya seakan-akan ide-ide teknologi dan sosial yang penting ini telah dibendung oleh dedikasisepenuh hati bangsa Amerika untuk berperang. Penelitian interdisipliner telah berkembang dalam berbagai proyek militer selama perang yang juga berperang penting bagi kebangkitan ilmu komunikasi .
Selama beberapa tahun setelah 1945, beberapa peristiwa penting terjadi secara cepat yang menambah peranan teknologi sebagai penyokong komunikasi manusia.
Pada januari• 1946,computer mainframe pertama,ENIAC,digunakan di sekolah tekhnik noure di univ peunsyluania.maka dimulailah revolusi computer walaupun universitas pensilvania segera kehilangan posisi dominannya dalam tekhnologi computer ketika pejabat universitas mencoba memaksa pencipta ENIAC ,presper ecker dan john mauchly untuk menyerahkan hak komersial mereka.
Sekitar seribu mil• dari Philadelphia di bell labs in murray hill new yersey dari beberapa tahun kemudian,William shocley,yohn barden dan walker brattain menemukan transsitor yang mungkin merupakan penemuan terpenting dibab ini. Transistor itu adalah salah satu device yang berfungsi mengantikan vacuum tube sebagai unit eletronik yang terpenting. Kelebihan dari transistor adalah ukurannya yang kecil dan kebutuhan listriknya yang kecil. Pada tahun 1980an chips semikonduktor (transistor modern) membuat ukuran computer semakin kecil sehingga harganya menjadi lebih terjangkau. Sehingga kebanyakan rumah tangga dan bisnis di Amerika mampu membelinya.
Akhir tahun 1940an• juga merupakan tahun-tahun yang penting dalam penelitian ilmu komunikasi. Di MIT ahli matematika, Norbert Wiener menerbitkan bukunya cyberneticks atau control dan komunikasi pada binatang dan mesin (1948). 2 Tahun kemudian Wiener menulis buku berikutnya yang bersifat non teknik yang juga menjadi best seller yang berjudul: “The Human Use Of Human Beings; Cybernetics and society(1950)
Yang lebih• berpengaruh dalam kebangkitan ilmu komunikasi adalah buku kecil yang ditulis oleh Cloude E. Shannon, seorang insinyur bidang elektro pada bell labs, dan Warren Weaver dari yayasan Rockfeller di New York buku teori metamatis komunikasi (1949). Me ngusung model komunikasi dilengakapi dengan sejumlah teori matematis. Tentang aspek-aspek dari komunikasi . Model yang sederhana diterima dengan antusiasme oleh ahli-ahli komunikasi dan mempengaruhi penelitian mereka dalam beberapa decade kedepan. Sayangnya beberapa ahli mengubah model dasarnya dalam cara-cara yang fundamental.
Pada kisaran waktu• yang sama Williem Schramm, seorang akademis yang memiliki keahlian dalam bidang penulisan fiksi ilmiah dari Universitas Iowa ke Universitas Illinois, dimana ia memahami sekolah komunikasi pertama yang memberikan gelar Ph.D. Banyak ahli-ahli dari tahun-tahun sebelumnya yang telah melakukan kegiatan penelitian komunikasi, tetapi mereka utamanya hanya mengindentifikasikan komunikasi dengan disiplin asal yaitu sosiologi, psikologi, atau ilmu politik. Mereka menjadi pelopor dalam penelitian komunikasi namun hanya dalam batasan intelektual. Setelah Schramm di Illinois penelitian komunikasi akhirnya dilembaga dalam institusi universitas, sekolah dan sebagian komunikasi, dan setengahnya banyak yang berspekulasi dan sebagian tetap dalam disiplin ilmu baru tersebut.
TEORI – TEORI KOMUNIKASI PADA TAHAP AWAL
Menurut Effendy (2003) teori dan model komunikasi yang tampil pada tahun awal sekitar dekade 1940-an dan 1950-an adalah sebagi berikut :
1. Lasswell’s Model (Model Lasswell)
Teori komunikasi yang dianggap paling awal (1948). Lasswell menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah menjawab pertanyaan : Who says in which channel to whom with what effect (Siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa). Jawaban bagi pertanyaan paradigmatik : Lasswell itu merupakan unsur-unsur proses komunikasi yaitu Communicator (komunikator), Message (pesan), Media (media), Receiver (komunikan/penerima), dan Effeck (efek).
Adapun fungsi komunikasi menurut Lasswell adalah sebagai berikut :
The surveillance of the environment (pengamatan lingkungan)
The correlation of the parts of society in responding to the environment (korelasi kelompok-kelompok dalam masyarakat ketika menanggapi lingkungan).
The transmission of the social heritage from one generation to the next (transmisi warisan sosial dari generasi yang satu ke generasi yang lain).
2. S-O-R Theory (Teori S-O-R)
Teori S-O-R singkatan dari Stimulus-Organism-Response ini semua berasal dari psikologi. Objek material dari psikologi dan ilmu komunikasi adalah sama yaitu manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen : sikap, opini, perilaku, kognisi afeksi dan konasi.
Menurut stimulus response ini efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Jadi unsur-unsur dalam model ini adalah ;
Pesan (stimulus, S)
Komunikan (organism, O)
Efek (Response, R)
Dalam proses perubahan sikap tampak bahwa sikap dapat berubah, hanya jika stimulus yang menerpa benar-benar melebihi semula. Mengutip pendapat Hovland, Janis dan Kelley yang menyatakan bahwa dalam menelaah sikap yang baru ada tiga variabel penting yaitu : (a) perhatian, (b) pengertian, dan (c) penerimaan.
Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin diterima atau mungkin ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan proses berikutnya.
Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap.
3. S-M-C-R model (Model S-M-C-R)
Rumus S-M-C-R adalah singkatan dari istilah-istilah : S singkatan dari Source yang berarti sumber atau komunikator ; M singkatan dari Message yang berarti pesan ; C singkatan dari Channel yang berarti saluran atau media, sedangkan R singkatan dari Receiver yang berarti penerima atau komunikan.
Khusus mengenai istilah Channel yang disingkat C pada rumus S-M-C-R itu yang berarti saluran atau media, komponen tersebut menurut Edward Sappir mengandung dua pengertian, yakni primer dan sekunder. Media sebagai saluran primer adalah lambang, misalnya bahasa, kial (gesture), gambar atau warna, yaitu lambang-lambang yang dieprgunakan khusus dalam komunikasi tatap muka face-to-face communication), sedangkan media sekunder adalah media yang berwujud, baik media massa, misalnya surat kabar, televisi atau radio, maupun media nir-massa, misalnya, surat, telepon atau poster. Jadi, komunikator pada komunikasi tatap muka hanya menggunakan satu media saja, misalnya bahasa, sedangkan pada komunikasi bemedia seorang komunikator, misalnya wartawan, penyiar atau reporter menggunakan dua media, yakni media primer dan media sekunder, jelasnya bahasa dan sarana yang ia operasikan.
4. The Mathematical Theory of Communication (Teori Matematika Komuikasi)
Teori matematikal ini acapkali disebut model Shannon dan Weaver, oleh karena teori komunikasi manusia yang muncul pada tahun 1949, merupakan perpaduan dari gagasan Claude E. Shannon dan Warren Eaver. Shannon pada tahun 1948 mengetengahkan teori matematik dalam komunikasi permesinan (engineering communication), yang kemudian bersama Warren pada tahun 1949 diterapkan pada proses komunikasi manusia (human communication).
Sumber informasi (information source) memproduksi sebuah (message) untuk dikomunikasikan. Pesan tersebut dapat terdiri dari kata-kata lisan atau tulisan, musik, gambar, dan lain-lain. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi isyarat (signal) yang sesuai bagi saluran yang akan dipergunakan. Saluran (channel) adalah media yang menyalurkan isyarat dari pemancara kepada penerima (receiver). Dalam percakapan sumber informasi adalah benak (brain) pemancar adalah mekanisme suara yang menghasilkan isyarat, saluran (channel) adalah udara.
5. The Osgood and Schramm Circular Model (Model sirkular Osgood dan Schramm)
Jika model Shannon dan Weaver merupakan proses linier, model Osggod dan Schramm dinilai sebagai sirkular dalam derajat yang tinggi. Perbedaan lainnya adalah apabila Shannon dan Weaver menitikberatkan perhatiannya langsung kepada saluran yang menghubungkan pengirim (sender) dan penerima (receiver) atau dengan perkataan lain komunikator dan komunikan. Schramm dan Osgood menitikberatkan pembahasannya pad perilaku pelaku-pelaku utama dalam proses komunikasi.
Shannon dan Weaver membedakan source dengan transmitter dan antara receiver dengan distination. Dengan kata lain, dua fungsi dipenuhi pada sisi pengiriman (transmiting) dan pada sisi pemnerimaan (receiving ) dari proses.
Pada Schramm dan Osgood ditunjukkan fungsinya yang hampir sama. Digambarkannya dua pihak berperilaku sama, yaitu encoding atau menajdi, decoding atau menjadi balik, dan interpreting atau menafsirkan.
6. Dance’Helical Model (Model Helical Dance)
Model komunkasi helical ini dapat dikaji sebagai pengembangan dari model sirkular dari Osggod dan Schramm. Ketika membandingkan model komunikasi linier dan sirkular, Dance mengatakan bahwa dewasa ini kebanyakan orang menganggap bahwa pendekatan sirkular adalah paling tepat dalam menjelaskan proses komunikasi.
Heliks (helix), yakni suatu bentuk melingkar yang semakin membesar menunjukkan perhatian kepada suatu fakta bahwa proses komunikasi bergerak maju dan apa yang dikomunikasikan kini akan mempengaruhi struktur dan isi komunikasi yang datang menyusul. Dance menggarisbawahi sifat dinamik dari komunikasi
Proses kounikasi, seperti halnya semua proses sosial, terdiri dari unsur-unsur, hubungan-hubungan dan lingkungan-lingkungan yang terus menerus berubah. Heliks menggambarkan bagaimana aspek-aspek dri proses berubah dari waktu ke waktu.
Dalam percakapan ,misalnya bidang kognitif secara tetap membesar pada mereka yang terlibat. Para aktor komunikasi secara sinambung memperoleh informasi mengenai topik termasa tentang pandangan orang lain, pengetahuan dan sebagainya.
7. Newcomb’ABX Model (Model ABX Newcomb)
Pendekatan komunikasi yang berdasarkan pada pendekatan seorang pakar psikolog sosial berkaitan dengan interaksi manusia. Dalam bentuk yang paling sederhana dari kegiatan komunikasi seseorang A menyampaikan informasi kepada orang lain B mengenai sesuatu X. Model ini menyatakan bahwa orientasi A (sikap) terhadap B dan terhadap X adalah saling bergantung dan ketiganya membentuk sistem yang meliputi empat orientasi.
Seperti dikutip Effendy (2003) menurut Severin dan Tankard (1992) pada model newcomb ini komunikasi merupakan cara yang biasa dan efektif dimana orang-orang mengorientasikan dirinya terhadap lingkungannya.
8. The Theory of Cognitive Dissonance (Teori Disonansi Kognitif)
Istilah disonansi kognitif dari teori yang ditampilkan Festinger ini berarti ketidaksesuain antara kognisi sebagai aspek sikap dengan perilaku yang terjadi pada diri seseorang. Orang yang mengalami disonansi akan beruapaya mencari dalih untuk mengurangi disonansinya. Pada umunya orang berperilaku ajeg atau konsisten dengan apa yang diketahuinya. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa sering pula seseorang berperilaku tidak konsisten seperti itu. Jika seseorang mempunyai informasi atau opini yang tidak menuju ke arah menjadi perilaku, maka informasi atau opini itu akan menimbulkan disonansi dengan perilaku.
9. Innoculation Theory (Teori Inokulasi)
Teori inokulasi atau teori suntikan yang pada mulanya ditampilkan oleh Mcguire ini mengambil analogi dari peristiwa medis. Orang yang terserang penyakit cacar, polio disuntik. Diberi vaksin untuk merangsang mekanisme daya tahan tubuhnya. Demikian pula halnya dengan orang yang tidak memiliki informasi mengenai suatu hal atau tidak menyadari posisi mengenai hal tersebut, maka ia akan lebih mudah untuk dipersuasi atau dibujuk. Suatu cara untuk membuatnya agar tidak mudah kena pengaruh adalah ”menyuntiknya” dengan argumentasi balasan (counterarguments).
10. The Bullet Theory of Communication (Teori Peluru)
Teori peluru ini merupakan konsep awal sebagai efek komunikasi massa yang oleh para teoritis komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula hypodermic needle theory yang dapat diterjemahkan sebagai teori jarum suntik.

Teori – teori Dalam Komunikasi Massa
The bullet theory of communication ( teori peluru )
Teori peluru ini merupakan konsep awal sebagai effek komunikasi massa yang oleh para teoritis komunikasi tahun 1970 an dinamakan pula hypodermic needle thory yang dapat diterjemahkan sebagai teori jarum hipodermik. Teori ini ditampilkan pada tahun 1950 an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika berjudul “The Invasion From Mars”.
Wilbur Schramm pada tahun 1950 an itu mengatakan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang pasif tidak berdaya. Tetapi pada tahun 1970 an Scrhamm meminta pada khalayak peminatnya agar teori peluru komunikasi itu tidak ada, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu ternyata tidak pasif.
Pernyataan Schramm tentang pencabutan teorinya tersebut didukung oleh Paul Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Lazarsfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi, mereka tidak jatuh terjerembab. Kadang – kadang peluru itu tidak menembus. Adakalanya efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak.
Sementara itu Raymond Bauer menyatakan bahwa khalayak sasaran tidak pasif,mereka bandel (stubborn).Secara aktif mereka mencari yang diinginkan dari media massa. Jika menemukannya, lalu melakukan interpretasi sesuai dengan predisposisi dan kebutuhannya.

Teori Komunikasi Pada Tahap Selanjutnya

1. Four Theory of The Press ( Empat Teori Pers )
Tiga orang cendekiawan Amerika, masing – masing Fred S. Siebert, Theodore Peterson, dan Wilbur Schramm pada tahun 1956 menerbitkan sebuah buku dengan judul “Four Theory of The Press”. Yang pada mulanya hanya sebagai teori pers akan tetapi seiring perkembangan jaman maka dapat disebut juga sebagai teori media massa.
Empat teori pers ini, yaitu :
• Authoritarian theory ( teori otoriter )
Aplikasi teori ini dimulai pada abad 16 di Inggris, Prancis, dan Spanyol yang pada zaman berikutnya meluas ke Rusia, Jerman, Jepang, dan negara – negara lain di Asia dan Amerika Latin.
Menurut Fred S. Siebert teori otoriter menyatakan bahwa hubungan media massa dengan masyarakat ditentukan oleh asumsi – asumsi filsafat yang mendasar tentang manusia dan Negara. Dalam hal ini tercakup : (1) sifat manusia, (2) sifat masyarakat, (3) hubungan antara manusia dengan Negara, dan (4) masalah filsafat yang mendasar, sifatpengetahuan dan sifat kebenaran.
• Libertarian Theory ( teori libertarian )
Seperti halnya teori otoriter, teori liberal juga dikemukakan oleh Fred S. Siebert. Ditegaskan olehnya bahwa untuk memahami prinsip – prinsip pers dibawah pemerintahan demokratik, seseorang harus memahamj filsafat dasar dari liberalisme yang dikembangkan pada abad 17 dan 18.
Manusia menurut faham liberalisme adalah hewan berbudi pekerti dan merupakan tujuan bagi dirinya sendiri. Kebahagiaan dan kesejahteraan seseorang adalah tujuan masyarakat, dan manusia sebagai organisme berpikir mampu mengorganisasikan dunia sekelilingnya dan mampu membuat keputusan – keputusan untuk memajukan kepentingannya.
• Soviet Communist Theory ( teori komunis soviet )
Schramm berpendapat bahwa pengawasan terhadap media massa harus berpijak pada mereka yang memiliki fasilitas, sarana percetakan, stasiun siaran, dan lain – lain. Selama kelas kapitalis mengawasi fasilitas fisik ini, kelas buruh tidak akan mempunyai akses pada saluran – saluran komunikasi. Kelas buruh harus mempunyai sarana komunikasi sendiri.
• Sosial Responsibility Theory ( teori tanggung jawab social )
Dasar pemikiran utama dalam teori ini adalah bahwa kebebasan dan kewajiban berlangsung secara beriringan, dan pers yang menikmati kedudukan dalam pemerintahan yang demokratis, berkewajiban untuk bertanggung jawab kepada masyarakat dalam melaksanakan fungsi – fungsi tertentu yang hakiki.
2. Individual Differences Theory ( teori perbedaan individual )
Nama teori yang diketengahkan oleh Melvin D. Defleur ini menelaah perbedaan – perbedaan di antara individu – individu sebagai sasaran media massa ketika mereka diterpa sehingga menimbulkan effek tertentu.
Menurut teori ini individu – individu sebagai anggota khalayak sasaran media massa secara selektif, menaruh perhatian kepada pesan – pesan terutama pada kepentingannya, konsisten terhadap sikap – sikapnya, sesuai dengan kepercayaannya yang didukung oleh nilai – nilainya. Tanggapannya terhadap pesan – pesan tersebut diubah oleh tatanan psikologisnya. Jadi,efek media massa pada khalayak massa itu tidak seragam, melainkan beragam disebabkan secara individual berbeda satu sama lain dalam struktur kejiwaannya.
3. Social Categories Theory ( teori kategori social )
Melvin L. Defleur selaku pakar yang menempilkan teori ini mengatakan bahwa teori kategori sosial menyatakan adanya perkumpulan – perkumpulan, kategori sosial pada masyarakat urban-industrial yang perikakunya ketika diterpa perangsang- perangsang tertentu hampir seragam.
Asumsi dasar dari teori kategori sosial adalah teori sosiologis yang menyatakan bahwa meskipun masyarakat modern sifatnya heterogen, penduduk yang memiliki sejumlah ciri – ciri yang sama akan mempunyai pola hidup tradisional yang sama. Persamaan gaya, orientasi dan perilakuakan berkaitan pada suatu gejala seperti pada media massa dalam perilaku yang seragam.
4. Social Relationship Theory ( teori hubungan social )
Menurut Melvin L. Defleur hubungan social secara informal berperan penting dalam mengubah perilaku seseorang ketika diterpa pesan komunikasi massa. Orang yang sering terlibat dalam komunikasi dengan media massa itu disebut dengan pemuka pendapatsebagai terjemahan dari opinion leader, karena segera dijumpai bahwa mereka berperan penting dalam membantu pembentukan pengumpulan suara dalam rangka pemilihan umum.mereka tidak hanya meneruskan informasi, tetapi juga interprestasi terhadap pesan komunikasi yang mereka terima.
5. Cultural Norms Theory ( teori norma budaya )
Teori norma budaya menurut Melvin defleur hakikatnya adalah bahwa media massa melalui penyajiannya yang selektif dan penekanan – penekanannya pada tema tertentu. Menciptakan kesan – kesan pada khalayak dimana norma – norma budaya umum mengenai topik yang diberi bobot itu, dibentuk dengan cara – cara tertentu. Oleh karena itu perilaku individual biasanya dipandu oleh norma – norma budayamengenai suatu hal tertentu, maka media komunikasi secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku.
6. Sosial Learning Theory ( teori belajar secara social )
Teori belajar secara sosial yang ditampilkan oleh Albert Bandura ini mengkaji proses – proses belajar melalui media massa sebagai tandingan terhadap proses belajar secara tradisional. Dia juga menyatakan bahwa social learning theory menganggap media massa sebagai agen sosialisasi yang utama disamping keluarga, guru, dan sahabat karib. Dalam belajar secara social langkah pertama adalah perhatian (attention) terhadap suatu peristiwa.
7. Diffusion of Innovation Model ( model difusi inovasi )
Everett M. Togers mendefinisikan difusi sebagai proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu diantara para anggota suatu sistem sosial. Difusi adalah suatu jenis khusus komunikasi yang berkaitan dengan penyebaran pesan – pesan sebagai ide baru. Sedangkan komunikasi didefinisikan sebagai proses dimana para pelakunya menciptakan informasi dan saling pertukaran informasi tersebut untuk mencapai pengertian bersama.
Unsur – unsur utama difusi ide adalah inovasi, yang dikomunikasikan melalui saluran tertentu, dalam jangka waktu tertentu, diantara para anggota suatu sistem sosial.
Ciri – ciri inovasi menurut Rogers :
a. Relative advantage ( keuntungan relatif )
b. Compatibility ( kesesuaian )
c. Complexity ( kerumitan )
d. Trialability ( kemungkinan dicoba )
e. Observability ( kemungkinan diamati )
8. Agenda Setting Model (Model Penataan Agenda )
Agenda setting model untuk pertama kali ditampilkan oleh M.E. Mc. Combs dan D.L. Shaw pada tahun 1972. Kedua pakar tersebut mengatakan bahwa ” jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting”.
Smentara itu Manhein dalam pemikirannya tentang konseptualisasi agenda yang potensial untuk memahami proses agenda setting menyatakan bahwa agenda setting meliputi tiga agenda, yaitu :
1. Agenda media, dimensi :
- visibility ( jumlah dan tingkat menonjolnya berita )
- audience salience ( tingkat menonjol bagi khalayak )
- valence ( cara pemberitaan berita )
2. Agenda khalayak, dimensi :
- familiarity ( keakraban )
- personal salience ( penonjolan pribadi )
- favorability ( kesenangan )
3. Agenda kebijaksanaan, dimensi :
- support ( dukungan )
- likelihood of action ( kemungkinan kegiatan )
- freedom of action ( kebebasan bertindak )
9. Uses And Gratifications Model ( model kegunaan dan kepuasan )
Pendekatan uses and gratifications untuk pertama kali diperkanalkan oleh Elihu Katz (1959) dalam suatu artike sebagai reaksiknya terhadap pernyataan Bernard Berelson (1959) bahwa penelitian komunikasi tampaknya akan mati. Katz menegaskan bahwa bidang kajian yang sedang sekarat itu adalah studi komunikasi massa sebagaipersuasi.
Model uses and gratifications menunjukkan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak. Jadi, bobotnya adalah pada khalayak yang aktif, yang sengaja menggunakan media untuk tujuan khusus.
10. Clozentropy Theory ( teori Clozentropy )
Istilah clozentropy merupakan paduan dari close procedure dari W.L Taylor dan entropy dari teori komunikasi yang disampaikan oleh Claude E. Shannon dan W. Weaver. Penelitian dengan landasan teori ini dilakukan karena ternyata disatu pihak komunikasi internasional mencakup pesan – pesan dari Negara A dalam bahasa X diterjemahkan kedalam bahasa Y ketika disampaikan ke Negara B, akan tetapi dilain pihak ada komunikasi internasional yang tidak memerlukannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar